Hotline 24 Jam Proses Klaim Bengkel Rekanan
Tentang Herbalife
Google Yahoo
Kode Warna

Awalnya Coba-Coba, Es Teler 77 Makin Menggurita

SIAPA tak kenal brand Es Teler 77, restoran bernuansa hijau dan kuning itu pasti langsung melekat di otak kita. Tapi apakah di antara kita yang tahu siapa pemilik serta pendiri restoran tersebut?

Adalah Yenny Setia Widjadja, istri dari (alm) Sukyanto Nugroho yang saat ini menjadi Chief Executive Officer (CEO) atau memegang posisi tertinggi dari restoran atau perusahaannya, yaitu PT Top Food Indonesia.

Restoran yang bermula dari ajang coba-coba pada 29 tahun silam, kini sudah berkembang pesat bahkan telah memiliki 180 cabang dalam dan luar negeri. "Restoran ini dibawa pertama kali oleh almarhum suami saya. Yang pada awalnya ibu saya, yaitu Murniati Widjaja yang memenangkan lomba membuat es teler kala itu," ceritanya saat ditemui okezone, belum lama ini.

Almarhum suaminya, Sukyanto Nugroho meninggal pada 2007 lalu. Sejak saat itu, dirinya terus menjalankan usaha yang dibantu oleh adiknya, Anton Widjaja serta anak keduanya Andrew Nugroho yang menjabat sebagai direktur pemasaran.

Meski hanya lulusan SMP, perempuan ini memegang teguh dan berniat akan meneruskan cita-ita suaminya untuk terus berekspansi dan mempertahankan apa yang sudah menjadi rencana sejak awal berdirinya Es Teler 77. Salah satu yang dipertahankannya adalah akan tetap membawa masakan Indonesia sebagai ciri utama restoran ini.

"Kenapa bakso? Karena bakso kita sebenarnya bakso kampungan. Kenapa kita angkat ke mal? Supaya orang yang berkelas bisa makan bakso. Makanya kita angkat bakso. Kita buat kualitas yang bagus, rasa yang enak, dan sehat," tuturnya.

Saat ini, restoran yang sudah mempunyai banyak cabang ini, terus berekspansi unuk ditempatkan di pusat perbelanjaan. Seiring dengan gaya hidup masyarakat kota yang sering berkunjung ke pusat perbelanjaan.

"Waktu itu memang kita tidak di mal-mal. Tapi kita berfikir kalau dipinggir jalan pasti beda dengan di mal. Suami saya juga berpikir tidak mau bersaing dengn pedagang bakso kecil, kita pindah. Dari situlah transisinya berat sekali," ungkapnya.

Awal berdirinya, restoran ini hanya memiliki sembilan cabang di Jakarta. Namun lambat laun terus berkembang seiring dengan semakin banyak permintaan dan pembeli yang mulai tertarik dengan rasa khas dari menu-menu makanan dan minuman terutama yang paling terkenal adalah es telernya.

"Semua yang meracik masakan adalah ibu saya. Bahkan sirup yang terdapat di es teler itu buatan sendiri. Sekarang saya yang meneruskan untuk menjaga resep-resep itu," jelasnya.

Selain di dalam negeri, restoran ini juga memiliki cabang di luar negeri. Singapura tiga cabang, Malaysia dua cabang, serta di Australia dua cabang. Ke depannya, dirinya optimistis akan membuka cabang baru di kawasan Timur Tengah.

"Di luar negeri banyak permintaan. Kita akan buka lebih banyak lagi. Seperti Arab Saudi. Sedang dipersiapkan, kendala dari dulu kita belum siap," akunya.

Dengan mengandalkan kemampuan serta pengalaman yang lebih dari 20 tahun ini, perempuan yang sudah menginjak usia 59 tahun ini bisa meraup keuntungan yang fantastis. Bayangkan, dengan outlet yang dimilikinya saat ini, omzet per bulannya pun rata-rata sebesar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun. Namun semua itu memang haus dikurangi pembayaran standar royalti sebesar 4-4,5 persen.

Jumlah mitra dari Es Teler 77 saat ini sebanyak 35, dan di antaranya mitranya ada yang memiliki 15-20 cabang, di mana 60 persen dari restoran yang terbesar merupakan milik sendiri.

Perempuan ibu dari tiga anak ini juga optimistis, perusahaannya akan terus berkembang. Lima tahun ke depan, perusahaan menargetkan setidaknya memperoleh pendapatan serta tambahan outlet dua kali lipat dari yang sudah ada saat ini.

"Lima tahun ke depan 200 persen, dua kali lipat dari jumlah cabang sekarang, baik penjualannya. Semuanya," tandasnya. (wdi)

read more...

Si Pembuat Kecap yang Tak Takut Ambil Risiko

NAMA Yuzaburo Mogi, pasti terasa asing di telinga Anda. Namun bila Anda mendengar kata Kikkoman, pasti sudah tak asing lagi, khususnya bagi para ibu tangga dan mereka yang doyan masak.

Ya, dia adalah CEO kehormatan dan ketua dewan direksi perusahaan Kikkoman. Perusahaan yang diklaim memberikan keamanan dan kenyamanan untuk konsumen dalam mengonsumi makanan Jepang setelah adanya kekhwatiran tentang keamanan produk makanan akibat bencana tsunami pada 2011.

Kendati bencana mengancam, Mogi kembali bangkit untuk mengejar kebijakan keselamatan dalam sebuah produk manufakturing, termasuk untuk mengonfirmasi dan mengusut asal usul bahan baku. Dirinya tak segan melakukan inspeksi secara sukarela demi keamanan para pelanggannya.

"Sebagai hasilnya, konsumen tidak akan ada masalah ketika menggunakan produk Kikkoman," kata Mogi seperti dikutip okezone dari majalah Forbes.

Mogi sendiri mulai bergabung dengan perusahaan Kikkoman pada 1958. Sudah lebih dari 50 tahun dia berkecimpung dalam pembuatan kecap dan bumbu dapur. Mogi pun mempunyai peranan penting dalam mendirikan pabrik pertama Kikkoman di Amerika Serikat (AS) yang berbasis di Wisconsin pada 1973. Di mana ini, hanya dalam rentang waktu tiga tahun saja ia berhasil meraup banyak keuntungan.

Walaupun dia berhasil membangun pabrik Kikkoman, Mogi terkenal rendah hati. Ia dinilai tidak pernah membanggakan keberhasilannya. Sosoknya pun terkenal sebagai sosok yang sederhana. "Saya hanya berpartisipasi," tuturnya merendah.

Keberhasilannya membangun Kikkoman di Amerika juga ternyata tidak membuat dirinya besar kepala. Ini terbukti dari hubungan pribadinya yang dekat dan mendalam dengan masyarakat di jantung Amerika tersebut. "Saya memiliki perasaan yang sangat ramah terhadap AS, terutama Wisconsin," kata Mogi.

Pada 2011 kemarin, Mogi yang telah 16 tahun menjabat sebagai presiden dan CEO Kikkoman ini sadar, kalau perusahaan yang dibangunnya adalah perusahaan yang memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat yang belum tersentuh sebelumnya.

"Saya melihat pergantian lebih dari sehari-hari manajemen perusahaan untuk generasi muda, tapi saya sadar akan kebutuhan untuk menciptakan permintaan yang sering, di mana tidak ada sebelumnya, seperti dalam kasus AS ini," imbuhnya.

Jangan Takut Ambil Risiko

Berangkat dari sana, dia pun memberikan beberapa masukan untuk para pengusaha agar tidak takut mengambil risiko ketika menjalankan usaha. Bahkan, jika gagal, jadikan kegagalan itu suatu pelajaran untuk terus berusaha lagi ke depannya. Hal ini dapat dilihat dari keberanian Mogi untuk bangkit setelah tertimpa bencana dalam bisnis makanan Jepang.

Dia juga mengatakan, dalam membuka usaha harus jeli melihat usaha yang banyak diminati atau banyak permintaan atas usaha itu. Sehingga ini akan memberikan nilai tambah yang tinggi.

"Menciptakan permintaan juga mencakup mengambil risiko, dan saran saya untuk laki-laki dan perempuan yang masih muda untuk merambah ke bisnis. Jangan takut untuk mengambil risiko, bahkan jika Anda gagal, Anda akan belajar dari kesalahan Anda," sarannya.

Perjalanannya bersama Kikkoman selama ini, bagi Mogi mengembangkan bisnis seperti di AS adalah peluang usaha yang besar di dunia. Karena dari pengalamannya, pasar di luar Jepang saat ini mencapai 45 persen dan 60 persen dari pendapatan di luar Jepang yang didapatkan dari kelompok Kikkoman.

"Kita dapat menerapkan model bisnis yang dikembangkan di Amerika Serikat di seluruh dunia," kata Mogi.

Dia pun mendapatkan pelajaran dari mengembangkan Kikkoman di AS, yakni pelajaran mengenai merendam daging dalam kecap sebelum dimasak. Berawal dari itulah, ternyata ide bisnis seperti ini juga dapat tumbuh di pasar Eropa dan bahkan 10 tahun ke depan Mogi optimistis permintaan kecap Kikkoman akan mulai tumbuh di negara lain seperti China dan negara lainnnya. "Kita juga bisa mendekati Amerika Selatan," tukasnya singkat.

Mogi juga optimistis ke depannya Kikkoman yang sangat berbau oriental ini akan memimpin di bisnis grosiran dan akan terus tumbuh sehingga akan menjadi bisnis terkemuka di banyak negara.

"Budaya makanan Jepang menjadi sangat populer di dunia, karena aman, sehat dan juga lezat. Kadang-kadang, makanan sehat tidak lezat dan makanan lezat tidak selalu sehat. Tapi makanan Jepang adalah makanan yang baik sehat dan lezat," pungkasnya. (ade)

read more...

Handry Satriago Sukses Pimpin GE dari Kursi Roda

KEKURANGAN anggota tubuh bagi setiap orang adalah ujian yang sangat berat, sehingga bisa saja orang tersebut mengalami depresi yang luar biasa dahsyat. Namun tidak bagi Handry Satriago, Presiden Direktur General Electric Indonesia.

Handry yang punya keterbatasan kepada kedua kakinya ternyata mampu melangkah jauh dari apa yang sanggup dibayangkan orang. Dirinya mampu mengatasi kekurangan tersebut dengan kelebihan yang dia miliki.

Pada usia 18 tahun, Handry didiagnosis mengidap kanker kelenjar getah bening di tulang belakangnya. Saat itu Handry tidak menyangka bila dirinya akan duduk di kursi roda hingga bertahun-tahun. "Itu terjadi di tengah-tengah tahun kejayaanku," ungkap Handry kepada okezone beberapa waktu lalu.

Namun, semangat hidup dan dukungan lingkungan yang kuat mampu mengalahkan banyak persoalan yang dihadapi Handry. Dia berhasil menyelesaikan S-1 jurusan teknik bioindustrinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan IPK amat mengesankan. Selanjutnya dia berhasil menyelesaikan Magister Management Double Degree di Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI)-Monash University, Australia, pada 1996 dalam waktu setahun lebih cepat dengan predikat cum laude.

Handry mengaku bila dirinya sangat peduli dengan dunia pendidikan sehingga dia memimpikan untuk kembali ke kampus untuk menjadi seorang dosen. Baginya, menjadi dosen merupakan hal yang mewah karena mengajarkan orang-orang untuk sukses ke depannya.

“Saya amat suka mengajar. Dulu saya mengajar di kelas-kelas setiap akhir pekan. Menjadi guru memberikan luxury yang tak ditemukan dalam profesi lain. Bayangkan, di sebuah kafe, ada yang datang memberi salam ‘Pak, saya dulu murid Anda, sekarang sudah jadi ini dan itu.’ It feels sooo..good, saya bisa senyum-senyum seharian,” ujar pria 42 tahun tersebut.

Dalam perjalanan hidupnya, seorang Handry ternyata pernah bermimpi menjadi jurnalis. Karena pada saat itu pengaruh media sangat kental. "Ikut karnaval, saya pakai rompi, bawa kamera, kayak wartawan, deh," kata pengagum Syahrir itu.

Selepas kuliah, dirinya direkrut sebuah perusahaan teknologi untuk mengurus majalah internal perusahaan. Tiga tahun menabung hasil kerjanya, Handry memutuskan untuk sekolah lagi di Institut Pengembangan Manajemen Indonesia Business School , dan lulus cum laude dengan dua gelar master. Sambil kuliah, dia membuka usaha desain grafis dengan kawan-kawan dan saudaranya. Predikat itu membuatnya dibujuk pencari bakat dari General Electric untuk masuk ke perusahaan listrik tersebut. "Saya tolak. Ngapain? Saya punya bisnis sendiri, kok," tegasnya.

Maklum, saat itu bisnisnya sedang maju pesat. Sang pencari bakat pun pantang menyerah, sambil menerangkan segala macam fasilitas yang bisa didapatkannya. Iming-iming fasilitas dan perjalanan keluar negeri akhirnya membuat dirinya kepincut. Posisi pertamanya di perusahaan tersebut yakni menjadi Manajer Pengembangan Bisnis GE Indonesia. Dia mematok target menjadi Jack Welch, CEO GE.

Tiga belas tahun kemudian, saat melakukan business trip mengenai pembangkit listrik ke Vietnam , dia ditawari posisi strategis yakni menjadi Presiden GE Indonesia. Pria kelahiran Riau, 13 Juni 1969 itu pun pemimpin termuda sekaligus lulusan sekolah dalam negeri pertama yang menjadi bos di perusahaan raksasa asal Amerika Serikat (AS).

Menjadikan Abraham Lincoln sebagai inspirator, Handry menjadi orang yang tak gampang menyerah. Pada 1994, meski sedang menjalani kemoterapi karena kankernya menjalar ke pinggang, dia tetap tegar. "Saya selama ini dikasih jalan sama Dia."

Ditawari Jadi Bos

Ketika masih menjabat sebagai Manajer Pengembangan Bisnis General Electric (GE) Indonesia , ia dihubungi langsung oleh Presiden GE ASEAN Stuart Dean untuk menangani bisnis GE yang ada di Singapura. Kepercayaan tersebut tentunya tidak disia-siakan, tanpa pikir panjang dirinya terbang menuju Singapura dengan keaadan masih duduk di atas kursi roda. Hal tersebut lah yang membuat dia terbang ke markas GE di AS hingga akhirnya dinobatkan menjadi Presiden GE Indonesia. “Semua ditunjukkan Yang Di Atas," katanya merendah.

Tiga belas tahun berada di perusahaan energi AS itu, Handry menjadi seorang motivator dan pebisnis ulung. Hampir semua yang dipegangnya menjadi bisnis yang ditakuti oleh pesaingnya. Misalnya, di bisnis lighting (pencahayaan), dia menghasilkan USD6 juta dalam dua tahun kepemimpinannya. Sebelumnya, di GE tak ada yang melirik bidang itu, karena dianggap tak prospektif karena dikuasai Philips.

Putra tunggal pasangan Djahar Indra dan Yurnalis Indra itu akhirnya menyanggupi tantangan membuat lighting menjadi bisnis sendiri,  terpisah dari consumer goods. Hasilnya, antara lain bisa Anda lihat tata cahaya di Bandar Udara Ngurah Rai dan siraman cahaya di Candi Prambanan. Dia pun merintis ide bisnis menjual paket cahaya dengan kontrak jangka panjang dengan sejumlah pabrik besar dan kecil di bidang kimia, cat, dan tekstil. "Anda santai saja, tata cahaya efisien kami yang urus," ujarnya.

Sejak duduk di bangku SMA Labs School Rawamangun, sahabat salah satu sutradara terbaik negeri ini, Riri Riza ini begitu juga teman-teman sepermainannya memperlakukan Handry layaknya orang normal dengan pembicaraan yang tak pernah membuat Handry tersinggung dengan keadaannya. Ketika nonton teater bareng pun, mereka menggotong Handry untuk bisa memasuki gedung teater. Solidaritas dan perlakuan sama dengan orang normal membuat Handry merasa nyaman. "Teman-teman membuat saya percaya diri," katanya.

Di sisi lain, ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjun bebas dari Rp2.500 menjadi Rp15 ribu, para pelanggannya di Glodok menolak barang-barang perusahaanya. Tak menyerah, Handry membujuk mereka membuat kontrak jangka panjang, menjual barang tersebut dengan separuh nilai tukar. Dengan cara itu, dia memotivasi tim yang terdiri atas orang-orang muda bahwa solusi bisa diperoleh di tengah kesulitan. Inilah praktek kepercayaan pemimpin dengan pengikutnya yang menjadi resep andalannya. (mrt) (rhs)

read more...

Aburizal Bakrie Sempat Dipandang Sampah

SETIAP pengusaha pasti mempunyai cerita tersendiri selama membangun usahanya. Suka duka selama menjalankan suatu perusahaan menjadi kisah menarik tersendiri bagi mereka.

Seorang pengusaha yang sudah sukses pun seperti tak pernah bosan untuk terus menggali kemampuan diri mereka dalam menjalankan bisnisnya. Berbekal naluri berbisnis, serta tekad dan kemauan yang keras, mereka pun meraih apa yang sudah menjadi keinginannya.

Begitu pula dengan konglomerat terpandang di Tanah Air, Aburizal Bakrie. Kendati lebih banyak cacian yang menghinggap di dirinya, namun dengan gayanya yang santai, pria yang akrab disapa Ical ini sukses membangun kerajaan bisnisnya.

Namun, bukan orang sukses namanya bila tak pernah merasakan pahitnya dalam membangun kesuksesan. Siapa sangka, pengusaha nasional yang pernah tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia tersebut, ternyata pernah mengalami kejatuhan yang sangat dalam.

Pada 1998, ketika krisis ekonomi melanda dunia, dia mengalami kerugian luar biasa sehingga dililit utang triliunan rupiah. Padahal, kala itu, aset yang dia dimilikinya hanya miliaran rupiah saja. Perbankan yang tadinya sangat menghormati dia, tiba-tiba memandang dia seperti sampah.

Hal itu terungkap dalam ceramah motivasi sukses yang disampaikan Ical, di hadapan 250 mahasiswa dan segenap civitas akademika Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Mansur Pandeglang Banten, akhir pekan lalu.

"Jangan pernah lari dari kesulitan. Kita diuji dengan kisah sukses dan gagal. Dan setiap kesulitan itu harus dihadapi,” ujar pria kelahiran 15 November 1946.

Seperti yang dilakukannya, kata Ical, dia menghadapi masa sulit tersebut dengan tenang, sampai akhirnya dia bisa bangkit lagi seperti saat sekarang. Apa yang membuatnya bangkit, karena dia teringat dengan nasehat ayahnya.

"Membayar utang tidak akan membuat miskin. Kalau tidak bisa bayar utang dengan duit, maka bayar dengan saham, atau surat berharga," ujarnya.

Untuk menunjukkan komitmennya itu, Ical pun menyerahkan semua sahamnya sehingga yang tersisa cuma 2,5 persen. "Ibu saya menjadi sangat sedih karena sesuatu yang sudah dibangun oleh ayah saya sekarang dimiliki oleh orang lain," kisahnya.

Ical juga mengubah gaya hidup. Dia yang tadinya biasa bepergian dengan pesawat pribadi sekarang naik pesawat kelas ekonomi. Dia pun mengajak mahasiswa untuk menanamkan mimpi setinggi langit, tapi kaki tetap berpijak di atas bumi.

"Tanamkanlah keinginan untuk selalu menjadi nomor satu dan menjadi yang terbaik. Tapi kalau impian belum tercapai tidak boleh patah semangat, harus terus berjuang. Kalau adik-adik berusaha menjadi yang terbaik, maka objektif kita ke depan menjadi yang terbaik," ujar Ical pasti.

Ayah tiga anak ini mengingatkan para mahasiswa untuk tidak membiarkan diri memelihara pesimisnya. "Mesti berani berpikir besar. Kalau kita berpikir susah maka susah beneran. Jangan pernah membiarkan diri berada di tempat gelap karena bayangan pun tidak akan menemani kita," ujarnya mengingatkan.

Pengusaha nasional ini memompa semangat para mahasiswa untuk berani menjadi seorang enterpeneur, wirausaha. Untuk memulai usaha tidak harus dengan modal sendiri. Bisa juga dengan memanfaatkan jasa perbankan. Sekarang ada program KUR dari BRI, pinjaman tanpa agunan.

"Uang itu harus bisa beranak-pinak. Yakinkan orang yang punya uang bahwa Anda bisa mengelola usaha yang Anda jalankan dan meraih keuntungan. Sekarang ada program KUR, pinjaman tanpa jaminan. Ingat, kita tidak pernah miskin dengan membayar utang ke bank,” nasehatnya pasti.

Dalam kunjungannya ke perguruan tinggi Islam di Pandeglang itu, Bakrie Untuk Negeri menyerahkan sumbangan tiga buah laptop kepada mahasiswa berprestasi dan 100 eksemplar buku "Anak Sejuta Bintang" yang berisi kisah inspiratif yang diilhami dari kehidupan Aburizal Bakrie. ARB juga meresmikan gedung Sentra Wirausaha STAINMAN Pandeglang.

Sekadar informasi, harta anak sulung dari keluarga Achmad Bakrie ini mengalami penurunan drastis terhadap hartanya. Padahal di 2010, Ical menduduki peringkat 10 jajaran orang terkaya dengan kekayaan sebesar USD2,1 miliar atau setara 57 persen.

Namun pada 2011, bos grup Bakrie tersebut harus puas menduduki peringkat ke-30 dengan kekayaan sebesar USD890 juta. Menurunnya kekayaan pria yang akan mencalonkan diri sebagai presiden di 2014 ini, karena terpaksa menjual sebagian sahamnya di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk membayar utang.

Miliarder batu bara yang dinobatkan majalah Forbes menjadi orang terkaya keempat se-Indonesia ini sahamnya meroket, dan membuat dirinya kembali mendapatkan status miliarder pada tahun itu, setelah pada 2008 hampir kehilangan masa keemasan dalam krisis kredit global. (ade)

read more...

Lepas dari Film Banting Setir Jadi Pengusaha Mi

ULET dan tekad Wahyu Indra, warga Pondok Cina, Depok ini patut dicontoh. Prinsip hidup tersebut mampu mengembangkan usaha waralaba mie ayamnya, hingga kini tersebar di 120 titik di seluruh Indonesia.

Padahal, pria beranak tiga ini dulu bergelut dengan PH perfilman nasional. Namun karena iklim perfilman tak begitu segar lagi baginya, dia pun banting setir ke bidang kuliner. Dengan modal awal sekira Rp27 juta, kini Wahyu sudah mempunyai penghasilan sebesar Rp50 juta per bulan dari sistim waralaba mie ayam grobakan yang dipilihnya.

Dengan dana kemitraan Rp7,5 juta, Wahyu pun telah memiliki 120 mitra di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kemudian di Bandung, Semarang, dan Pekanbaru.
"Alhamdulillah dengan fokus saya bisa mengembangkan usaha ini. Yang penting kuncinya spekulasi yang terukur dalam menjalankan usaha," tuturnya kepada Okezone di Kantor Pusat Mie Ayam Grobakan di Jalan Merpati 6 No 221, Perumnas Depok I, belum lama ini.
Berawal dari hobi makan mi ayam, Wahyu pun tertarik untuk berjualan mi ayam. Ketertarikan itu muncul karena penggemar mi ayam dari segala umur. Wahyu pun mulai gencar melakukan survei mi ayam berbagai produk. Dari mi ayam terkenal, hingga yang biasa.

Pada 2007, suami dari Ervina Widamayanti itu pun mulai mencari resep untuk membuat mi ayam yang enak dan sehat disantap. Setiap menemukan resep membuat mi dari berbagai sumber, Wahyu pun mencoba mi buatannya itu ke pasar. Baik itu di acara keluarga hingga acara di RT dan RW.

Hasilnya Wahyu pun menemukan resep mi yang enak, lembut, dan tidak mudah putus. Tak hanya itu bebas bahan pengawet, kimia, dan halal.

"Kemudian juga bumbu. Bumbu serta sambal yang menyatu di mi ayam itu menari di lidah. Trial eror saya bahkan sampai setahun, jadi awalnya tidak begitu mulus, hasilnya memuaskan," paparnya.

Modal awal digunakan untuk membeli mesin pembuat mi Rp6,5 juta, bahan baku serta menyewa tempat berjualan di Jalan Mawar. Tepat sehari setelah Lebaran pada 2008, Wahyu resmi berjualan mi ayam. Sambutannya pun luar biasa. Hampir 100 mangkuk mi ayam seharga Rp7.000 pun terjual. Kemudian Wahyu pun pindah ke Jalan Merpati. Walaupun pindah mi ayam Wahyu tetap diburu konsumen.

Tak ingin puas dengan buatan mi ayamnya, Wahyu pun mencoba mengembangkan usahanya. Mulainya Wahyu membaca buku tentang waralaba. Setelah yakin Wahyu pun mengembangkan usahanya dengan cara waralaba. Namun pasang surut pun pasti menghampiri usaha Wahyu. Namun semangatnya kembali muncul karena ia belajar dari kegigihan tukang tongseng.
"Waktu makan tongseng saya tanya sama pedagangnya, dia sudah sukses punya ruko, saya tanya ruko ini sewanya berapa per bulan. Dia bilang punya sendiri. Saya tanya lagi berapa lama jualan tongseng, dia bilang lima belas tahun dan mulai tahun ke sepuluh merasakan enaknya. Di situ saya terpecut. Saya baru satu tahun buka saja sudah menyerah, payah banget kan, akhirnya saya bangkit lagi," katanya.
Setiap kemitraan yang ingin membuka waralaba mi ayam Wahyu hanya cukup merogoh kocek berinvestasi sebesar Rp7,5 juta. Dengan dana itu akan mendapatkan gerobak mi ayam yang terbuat dari kayu jati Belanda dan mendapatkan 28 item lainnya. Selain itu diberikan juga pelatihan cara membuat mi, bumbu mi ayam, dan sambal.

"Dari 120 mitra, 20 persennya ada yang berhenti karena berbagai hal. Ada juga berhenti lalu melanjutkan kembali. Sisanya sukses, bahkan sudah ada yang 100 mangkok per hari. Kepercayaan menjadi komitmen kami," imbuhnya.

Analisa investasi dari modal Rp7,5 juta itu adalah pemasukan mi ayam per hari Rp187 ribu (25 mangkuk), teh botol Rp75 ribu, bakso (dua buah) Rp30 ribu, pangsit rebus (dua buah) Rp15 ribu. Jika dihitung per bulan maka penghasilannya Rp9,2 juta. Sedangkan pengeluaran per bulannya mencapai Rp2,3 juta. (mrt)

read more...

Diawali Iseng, Coffee Toffee Kini Beromzet Hingga Rp140 Juta

SESUATU bisa menjadi besar memang harus dimulai dari nol, tidak ada pengecualian. Contoh paling nyata usaha yang dibangun dari nol adalah usaha yang dilakukan bersungguh-sungguh pada akhirnya akan menjadi besar.

Begitu pula dengan kedai kopi "Coffee Toffee" yang saat ini menjamur hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Siapa sangka, jika kedai tersebut hanya berawal dari iseng dan mimpi.

Tepatnya enam tahun yang lalu, saat masih kuliah di negeri Kangguru, Obi Anindito senang menghabiskan hari-harinya bekerja di sebuah kedai kopi yang terkenal di dunia. Saat bekerja itulah, dirinya merasa kopi yang digunakan oleh gerai tersebut berasa dari Indonesia.

Melihat hal tersebut, dirinya merasa tergugah, mengapa bukan orang-orang Indonesia yang seharusnya menikmati kopi-kopi enak asal Indonesia.

"Coffee Toffee founder-nya Pak Obi Anindito. Tepatnya 2006 silam," kata PR and Promotion Manager Coffee Toffee Mika Afandy saat berbincang dengan okezone.

Dari situlah, ketika sudah tidak bekerja di kedai ternama tersebut, Obi memutuskan untuk belajar mengenai seluk beluk kopi. Dari mulai bertandang ke PT Perkebunan Nusantara 12, serta berkeliling mencari biji kopi pilihan.

Modal awalnya kala itu bisa dibilang besar untuk ukuran mahasiswa. Modal yang diperoleh dari pinjaman sana sini tersebut akhirnya terkumpul sebanyak Rp5 juta.

"Awal banget modal Rp5 juta. Karena di awal kan hanya berbentuk gerai dengan konsep take away, take away," akunya.

Ternyata, sistem take away tersebut tidak berlaku di kultur Indonesia yang menikmati kopi sambil santai dan ngobrol. Pada 2008, menjadi tahun terberat bagi Coffee Toffee lantaran penjualan yang merosot bahkan selama tiga bulan berturut-turut tidak mampu menggaji para pegawainya. Selain itu, banyak gerai yang berangsur-angsur tutup karena sepinya pembeli. Berangkat dari situ, manajemen mulai berfikir, apa yang harus dilakukan.

"Kita tahu, bukan kopi Indonesia yang salah. Tapi kita yang terlalu idealis bikin sistem take away. Akhirnya kita buatlah tipe baru," ujarnya.

Adapun di 2008, selain merupakan tahun terberat juga merupakan tahun bangkitnya Coffee Toffee. Manajemen mulai berbenah diri memperbaiki keadaan. Dibukanya gerai-gerai dengan gaya coffee shop atau dine in coffee shop. Siapa sangka, ternyata ide baru ini menuai apresiasi dari pecinta kopi.

"Dan sekarang, sudah 114 gerai yang kita buka. Kalau dihitung dengan awal yang sudah pernah buka lalu tutup ada sekira 148 gerai," akunya lagi.

Untuk mendapatkan kopi nikmat yang disajikannya, Coffee Toffee memang tidak perlu susah-susah. Banyak wilayah di Indonesia yang menghasilkan biji kopi pilihan seperti Bali, Sumatera, Jawa serta Sulawesi. Menurutnya, gerai kopi impor yang saat ini menjamur juga menggunakan kopi yang sama. Namun, dia berani bertaruh, dengan rentang harga yang jauh, namun rasanya mirip.

"Kalau untuk resep kita tidak meniru, karena kan mereka punya hak paten. Kita coba-coba sendiri," tuturnya.

Coffee Toffee Masa Kini

Kini, Coffee Toffee tidak perlu khawatir, dari 33 minuman kopi andalan, dari awalnya 16 jenis, saat ini setidaknya sudah mampu meraih banyak pelanggan. Omzet yang diterima juga tidak main-main setiap bulannya.

"Kalau untuk gerai paling kecil Rp60 juta-Rp140 juta per bulan. Padahal dulu hanya Rp200 ribu per hari atau sekira 15 pelanggan saja," akunya.

Kini, Coffee Toffee semakin ramai lantaran siapapun bisa turut andil dalam membangun bisnis kedai kopi ini dengan cara waralaba. Coffee Toffee yang sudah resmi menjadi Perusahaan pada 2011 lalu dengan nama PT Coffee Toffee Indonesia ini menawarkan harga Rp250 juta untuk setiap gerai dengan ukuran paling kecil.

"Saat ini yang kita punya sendiri ada empat di Surabaya dan satu lagi di Jakarta," katanya.

Ekspansi ke Luar Negeri

Tidak bisa dipungkiri jika permintaan akan kopi terus berkembang dari masa ke masa. Buktinya, Coffee Toffee mulai banyak dilirik bahkan hingga ke negara tetangga.

"Malaysia dan Singapura sudah minta dari 2011. Singapura dari Singapore tourism board. Tapi diawal kita tujuannya emang bikin orang Indonesia negrasain kopi sendiri," tuturnya menjelaskan.

Saat ini manajemen mengakui jika akan memfokuskan gerai yang ada di dalam negeri. Caranya adalah sejak tahun lalu berhenti untuk membuka gerai dengan sistem waralaba. Alasannya ingin meningkatkan mutu dari gerai yang sudah ada.

Terakhir dia juga memastikan, jika Coffee Toffee akan berhenti di gerai ke-250. Saat ini, Coffee Toffee sedang membidik pasar dengan tingkat konsumen yang menjajikan seperti kawasan Indonesia Timur serta Bali.

"Lima tahun ke depan, kita akan setop 250 gerai. Riset kita jenuhnya di 250. Karena 114 kita belum jangkau Papua," tandasnya. (ade)

read more...