Hotline 24 Jam Proses Klaim Bengkel Rekanan
Tentang Herbalife
Google Yahoo
Kode Warna

Abon Ikan Patin Lebih Lezat Lebih Untung

Abon ikan patin ? Rasanya belum banyak diantara kita yang pernah mengkonsumsinya. Selain karena jenis abon yang lebih populer hingga saat ini diantaranya abon sapi, abon ayam atau yang relatif baru adalah abon ikan bendeng, juga karena abon ikan patin ini belum banyak diproduksi sehingga relatif tidak mudah untuk mendapatkannya di pasaran. Abon ikan patin dibuat dari daging ikan patin dengan teknik pengolahan yang cukup sederhana dan relatif sama dengan cara pembuatan abon lainnya. Ikan patin sudah kita kenal sebagai ikan penghasil daging karena komposisi dan pertumbuhan dagingnya relatif lebih bagus dibanding jenis ikan lainnya. Selain itu ikan patin juga dikenal memiliki rasa daging yang lembut dan lezat disamping kaya akan protein, lemak, kalsium dan zat lain yang diperlukan oleh tubuh. Dan yang paling penting karena kandungan kolesterol yang rendah pada daging ikan patin. Kelebihan-kelebihan itulah yang membuat potensi bisnis abon ikan patin memiliki prospek yang cerah. 

Salah satu pe wirausaha yang kini memfokuskan diri pada pembuatan abon ikan patin adalah Arief Afief. Sebelumnya Arief Afief adalah peternak ikan patin yang sempat berpikir untuk menghentikan usaha ternak ikan patinnya lantaran saat panen harga ikan patin jatuh. Namun rintangan tersebut tidak membuat Arief putus asa, ia lalu memcoba membuat produk olahan hasil ikan patin yakni abon ikan patin. Ternyata kreativitasnya membuahkan hasil, selain produknya diterima dengan baik oleh konsumen, keuntungan dari usaha pembuatan abon ikan patin juga lebih menjanjikan. Dengan perhitungan sederhana, harga jual ikan patin 100 kg berkisar antara 1 jt sampai 1,2 jt. Namun jika diolah menjadi abon ikan patin, 100 kg ikan patin bisa menghasilkan uang hingga 2,5 jt rupiah.

Proses pembuatan abon ikan patin
  • Pemilihan ikan patin. Ikan patin yang baik dibuat abon ikan patin adalah yang berusia +- 8 bulan keatas dengan berat lebih kurang 7 ons.
  • Penyiangan. Adalah proses pembersihan ikan patin dari kotoran, pemisahan kulit dan jerohan ikan. Menurut Arief kulit ikan patin bisa diolah menjadi kerupuk ikan patin sedangkan jerohannya bisa dimanfaatkan untuk campuran pakan ikan.
  • Perebusan. Ikan yang sudah bersih dipotong menjadi 3 atau 4 bagian sesuai dengan ukuran besar ikan lalu dikukus selama kurang lebih 30 menit hingga setengah matang. Dalam proses ini Arief menambahkan ramuan yang didapatnya dari orang tua untuk menghilangkan bau amis ikan patin berupa daun salam dan sereh yang diletakkan di bagian bawah panci kukus.
  • Fillet. Proses pemisahan daging ikan patin dari tulang, kepala dan ekor. Proses fillet ini dilakukan seperti merobek-robek daging menjadi kecil-kecil secara manual menggunakan tangan dengan daging ikan dalam keadaan hangat.
  • Pembuatan bumbu abon ikan patin. Bumbu abon ikan patin berupa campuran dari bermacam rempah-rempah, jahe, bawang merah, garam dan lainnya serta tambahan santan kelapa secukupnya.
  • Penggorengan. Daging ikan patin yang sudah difillet digoreng bersama bumbu abon ikan patin. Proses penggorengan ini dilakukan selama +- 1 jam dengan terus diaduk. Arief mengaku membutuhkan hingga 5 liter minyak goreng untuk mengolah 30 kg ikan patin menjadi abon ikan patin. Setelah digoreng daging ikan patin lalu ditiriskan untuk membuang minyaknya.
  • Pengeringan. Proses ini bertujuan untuk membuat abon ikan patin benar-benar kering dan terpisah dari sisa minyak penggorengan. Arief menggunakan pengering pada mesin cuci yang dimodifikasi sebagai mesin pengering atau ia sebut mesin spinner. Untuk menambah rasa manis abon ikan patin, Arief biasa menambahkan gula sebanyak 1 kg untuk setiap 30 kg ikan patin yang diolah menjadi abon ikan patin.
  • Packing. Pengemasan adalah proses terakhir hingga abon ikan patin siap dijual.
Potensi bisnis pembuatan abon ikan patin

Dengan harga ditingkat konsumen mencapai 25 ribu rupiah per ons-nya ditambah ongkos produksi yang tidak begitu besar membuat usaha pembuatan abon ikan patin bisa menjadi alternatif bisnis bagi kita semua. Arief mengatakan dari 10 kg ikan patin bisa menghasilkan 1,8 kg abon ikan patin. Dalam sehari Arief biasa menghabiskan tak kurang dari 30 kg ikan patin untuk diolah menjadi abon ikan patin. Sebagai produsen, Arief memperoleh keuntungan sekitar 30% dari ongkos produksi. Satu kilogram abon ikan patin dengan ongkos produksinya yang tak lebih dari 130 ribu, Arief menjualnya kepada agen distributornya antara 170 ribu hingga 180 ribu rupiah. Jika dalam sehari Arief mampu memproduksi sampai 5,4 kg abon ikan patin, berarti laba yang mampu diraup Arief bisa mencapai 200 ribu perhari atau 6 jt rupiah perbulannya. Sebuah potensi bisnis yang luar biasa mengingat Arief  belum genap setahun dan baru dalam tahap mencoba dalam “usaha abon ikan patin” ini.

Demikian sedikit informasi tentang usaha abon ikan patin. Bagaimana Anda tertarik untuk mencobanya ? Selamat ber wirausaha dan sukses.

CP : Arief Afief, Abon Ikan Patin
Jl. Pemuda 14 Marajaya, Bogor, Jawa Barat 08569916026

read more...

Sukses Bisnis Baju Anak

surut bagi pengusaha merupakan hal yang biasa. Dengan ketekunan dan keuletan ditambah kerja keras, tidak mustahil sang pengusaha bisa merasakan kesuksesan.

Bahkan, omzet ratusan juta rupiah akan dengan mudah didapatkan. Pengalaman tersebut juga dirasakan Deddy Satriawan, seorang wirausaha muda yang berhasil merintis usahanya dengan menjual produk baju anak. Just For Kids, itulah nama gerai milik Deddy yang kini telah ada beberapa cabang di Jakarta. Deddy bercerita awal mula terjun menjadi wirausaha pada 2007.

Dia bersama temannya merintis usaha baju dewasa yakni Traffic dan You, Me and My Shirt. Keduanya berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan. Namun sayangnya, saat itu keberuntungan tidak berpihak pada Deddy. Usaha You, Me and My Shirthanya mampu bertahan selama 1,5 tahun. Kemudian baru pada akhir 2009, Deddy memutuskan untuk mendirikan Just For Kids seorang diri, sehingga awal 2010 Deddy tidak lagi mengurus Traffic karena ingin fokus berbisnis baju anak.

Deddy juga menyadari bahwa pasar baju anak lebih menjanjikan ketimbang baju dewasa.“Saya tetap optimistis untuk berbisnis lagi di jenis usaha yang hampir sama, meski pernah mengalami kerugian,” kata Deddy di salah satu mal di Jakarta beberapa waktu lalu. Gerai Just For Kids yang pertama dibuka di ITC Kuningan.

Waktu itu, Deddy rela menjual mobil pribadinya untuk memperoleh modal awal usahanya yang sekitar Rp50 juta. Uang itu dipergunakan menyewa sekaligus merenovasi gerai sebesar Rp40 juta, sedangkan sisanya untuk membayar karyawan, membeli bahan baku, dan sebagainya. Setelah itu, Deddy membuka gerai di Supermall Karawaci. Gerai itu sifatnya tidak permanen, sehingga tidak menelan banyak biaya.

Sadar respons pembeli cukup baik, Deddy kembali membuka gerai di Pondok Indah Mall (PIM) pada Februari 2011 dan Mal Metropolitan Bekasi pada Juli 2011. Gerai terbaru Just For Kids berlokasi di Mall of Indonesia (MoI) Kelapa Gading yang dibuka pada Agustus 2011. Tak hanya itu, Deddy juga berhasil masuk Metro Department Store.

Bahkan, tahun ini Deddy menargetkan akan membuka delapan gerai di Jakarta. Tahun depan Deddy juga berencana untuk membidik pasar di luar Jakarta, yakni Bali dan Sumatera. “Targetnya 10 gerai dalam satu tahun. Strategi promosi dan posisitioning brand Just For Kids. Sebenarnya melalui kerja sama dengan Metro Department Store itu merupakan salah satu strategi marketing supaya tidak kehilangan pasar, meski penghasilan di Metro cuma 30 persen dibanding total penghasilan satu gerai,” kata Deddy.

Setelah Lebaran tahun ini, Deddy akan menjadikan salah satu artis cilik sebagai brand ambassador Just For Kids. Selain itu, Deddy juga akan memindahkan gerai Just For Kids di ITC Kuningan ke mal lain yang bersegmen menengah ke atas. Namun,Deddy mengungkapkan belum berencana untuk merambah ke pasar ekspor. Deddy mengaku sangat selektif dalam memilih lokasi gerai Just For Kids. Letak gerai sangat menentukan penjualan.

Gerai Just For Kids di ITC Kuningan terletak di bagian belakang, sehingga jarang dilewati dan dilirik pembeli. Penjualan di gerai ITC Kuningan hanya mampu mencapai Rp30 juta per bulan, sedangkan gerai lain yang terletak di bagian depan mampu meraih keuntungan hingga dua kali lipat.

“Penjualan di setiap gerai itu berbeda. Karena ternyata memang benar sih, posisi dan lokasi gerai itu sangat menentukan penjualan. Untuk sewa tempat, saya lebih pilih ada di depan dibandingkan belakang, meski lebih mahal. Beda posisi itu bisa beda keuntungan hingga tiga kali lipat karena progresnya cepat,” jelas pria berusia 32 tahun ini.

Kondisi berbeda terjadi di gerai PIM yang mampu meraup omzet hingga sekitar Rp150 juta per bulan. Bahkan, momen tertentu seperti Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru, mampu mendongkrak penjualan hingga 100 persen.

“Di PIM, segmen kami adalah menengah ke atas, sedangkan di ITC Kuningan itu menengah ke bawah. Harga sewa di PIM lebih mahal, tapi penjualan juga lebih besar enam kali lipat karena harga produk yang dijual lebih mahal. Jadi, di ITC Kuningan terpaksa ditutup sementara karena positioning- nya sudah enggak cocok lagi,”papar Deddy.

Ketika beralih ke segmen berbeda, Deddy melakukan berbagai strategi penjualan yang baru demi memanjakan pelanggannya, seperti mengubah kemasan shopping bag, meningkatkan kualitas bahan baju, hingga memberikan pelatihan karyawan sehingga bisa memberikan pelayanan yang lebih baik.“Produk yang dijual sesuai dengan karakter konsumen di wilayah gerai. Intinya, walaupun brand lokal, standarnya enggak kalah dengan brand luar negeri,”ucapnya.

Saat ini biaya produksi adalah sebesar 30 persen dari harga jual. “Jadi, harga jual yakni 300 persen. Porsi harga produksi 30 persen dari harga jual. Angka itu belum termasuk sewa tempat dan karyawan. Awalnya, karyawan saya berjumlah sekitar lima orang, sekarang sudah bertambah menjadi 30 orang,” katanya.

Kesuksesan Just For Kids hingga saat ini tidak terlepas dari inspirasi yang didapat Deddy Satriawan dari anaknya sendiri. Ketika anak pertamanya lahir pada 2008, Deddy kesulitan untuk mendapatkan baju anak yang berkualitas dan fashionable.

“Susah banget cari baju anak kecil yang bagus, kreatif, dan tidak standar. Selain itu harganya mahal,” kata Deddy. Hal itu membuat dirinya berinisiatif membuat baju sendiri untuk anaknya. Hasilnya ternyata banyak orang yang suka. Semenjak itulah dia mencoba membuat baju anak dan menjualnya. Sebelum terjun menjadi wirausaha, Deddy sempat bekerja sebagai konsultan desain grafis di sebuah perusahaan periklanan selama lima tahun.

Saat ini, Deddy mengaku mau fokus untuk mengurus Just For Kids dan belum ada keinginan untuk kembali menjalani profesi yang dulu. “Pasar baju anak lebih luas dan menjanjikan. Selain itu, daya belinya juga lebih bagus,” ujarnya. Ke depan, kata Deddy, fashion akan terus berubah. Just For Kids akan terus berkembang dan menghasilkan sesuatu yang lebih kreatif agar pembeli tidak jenuh dengan produk yang ditawarkan.

Sesuai dengan slogan Just For Kids, yakni where kids meet Hollywood. “Anak-anak harus keliatan lebih keren dan bisa menjadi seperti yang mereka mau walaupun masih di usia dini,”jelasnya. Deddy menambahkan, Just For Kids juga banyak menerima pesanan dari perusahaan multinasional untuk memproduksi barang promosi seperti kaus, kemeja, sepatu, topi.

“Adapun klien reguler kita misalnya adalah Sony Indonesia, Bosch, Shell, BNI, Bumiputera,Plaza Indonesia,IBM,Dell,”tandas Deddy. Ciri khas dari Just For Kids adalah tulisan-tulisan kreatif yang disablon di atas baju anak. Saat ini baju yang diproduksi adalah untuk anak berusia 1–10 tahun dan dibanderol dengan harga Rp79.000–129.000 per baju.

Deddy juga memproduksi barang khusus anak lainnya seperti sepatu, celana jins, blazer, dan topi. Selain anak, Deddy juga memproduksi baju khusus keluarga (familyT-shirts) yakni untuk ayah, ibu,dan anak dengan desain yang sama seharga Rp299.000 per satu set. Tak hanya itu, Deddy juga berencana untuk memproduksi tas anak dan jumper untuk bayi.

read more...

Bisnis Keripik Ikan Mujair Bisa Kuliahkan Anak

Ikan mujair biasanya dikenal dalam bentuk masakan untuk menjadi "teman" melahap nasi.

Namun, di tangan seorang ibu di Banjarnegara, Jawa Tengah, ikan mujair justru diolah menjadi keripik yang renyah nan gurih. Penasaran seperti apa rasanya?

Ikan mujair yang biasa hidup di air tawar sering diolah sebagian masyarakat sebagai lauk, baik di goreng, pepes, ataupun bumbu santan.

Namun lain hal dengan yang dilakukan oleh Sunarti, warga Desa Luwung Kecamatan Rakit, Banjarnegara, Jawa Tengah ini mengolah ikan mujair menjadi sebuah makanan unik berupa keripik yang kabarnya memiliki kelezatan dan tingkat kandungan protein yang cukup tinggi.

Setiap hari, Sunarti, 55 tahun, bersama suaminya Jubaidi, 65 tahun, selalu mengambil ikan di kolam belakang rumahnya. Anakan ikan mujair yang berusia antara 1,5-2 bulan ini selanjutnya akan diolah menjadi sebuah camilan keripik.

Diawali coba-coba dalam mengolah keripik mujahir, dirinya tak menyangka kini bisa menjadi bisnis yang cukup menguntungkan. Dengan dibantu empat karyawannya, dalam sehari dia bisa membuat hingga 25 kilogram (kg) keripik mujair yang dijual per satu kg.

Adapun keripik mujair ini dijual dengan harga Rp75 ribu. Hingga saat ini, keripik mujair buatan Sunarti telah dipasarkan ke sejumlah daerah seperti Jakarta, Semarang, dan Bandung.

Omzet dari usaha keripik tersebut bisa dikatakan lumayan, yakni antara Rp4 juta hingga Rp5 juta setiap bulannya. Sunarti yang telah enam tahun menggeluti usaha keripik ini telah mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana. (Elis Novit/Sindo TV/ade)

read more...

Mahasiswa Ini Sukses Berbisnis Kuliner Aqiqah Beromset Ratusan Juta

Untuk menjadi pengusaha sukses di bidang kuliner ternyata tidak harus bisa atau jago masak. Contohnya yang dialami oleh Andi Nata yang merupakan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), berhasil mengembangkan bisnis masakan aqiqah.

Aqiqah merupakan menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahiran seseorang anak sebagai tanda syukur bagi kaum muslim.

Andi Nata yang mengambil Jurusan Teknik Mesin, seperti tidak cocok dengan bisnis yang ia tekuni. Bisnis Aqiqah yang ia kembangkan menyediakan masakan yang identik dengan sate dan gulai kambing.

"Jujur, saya tidak bisa masak, apalagi mengolah masakan sate atau gulai kambing. Tapi hasil masakan saya sudah masuk ke Hotel Four Seasons dan tiga hotel bintang empat lainnya di Jakarta," ujar Andi yang ditemui detikFinance beberapa waktu lalu.

Lalu, apa yang membuatnya sukses mengelola bisnis Aqiqah hingga beromzet ratusan juta rupiah per bulan?

Menurutnya menekuni bisnis kuliner tidak selalu bisa masak. Berkaca pada kemampuannya yang sama sekali tidak bisa masak namun ingin punya bisnis kuliner, dirinya harus 'berkelana' mencari juru masak handal.

"Saya punya niat besar untuk buka bisnis aqiqah, namun tidak bisa masak, untuk mewujudkan keinginan saya, maka ide saya tidak lain mencari juru masak andal. Namun pencarian tersebut tidaklah mudah, cukup banyak juru masak yang menolak khususnya dalam memberikan resep rahasianya," ungkap Andi.

Ia mengakui sangat susah mencari juru masak yang enak dan mau diajak kerjasama. Tak habis akal Andi pun melancarkan berbagai trik, salah satunya bersilaturahmi atau mengunjungi orang-orang yang ia 'incar'.

"Ya, dengan niat bersilaturahmi orang tak akan mungkin mengusir saya, walaupun kenal saja tidak. Sambil main ke rumah juru masak yang saya incar, hampir tiap hari tidak lupa membawa jajanan, seperti coklat, biskuit, dan lain-lain untuk anaknya, ya istilahnya nyogok," tuturnya.

Akhirnya, hampir 2 (dua) minggu silaturahmi sambil mengungkapkan keinginan tulusnya, akhirnya si juru masak yang ia incar hatinya pun luluh. "Dia mau jalin kerjasama, hingga sampai saat ini," ucapnya.

Apa yang membuat usaha aqiqah yang diberi nama Raja Aqiqah. Klaim Andi tidak lain karena kualitas bahan utama dan cita rasa masakannya yang jauh dibandingkan yang lain.

"Bahan bakunya bukan kambing seperti pada umumnya, tapi daging domba yang merupakan perkawinan domba Afrikan F1 dengan domba Jawa Barat. Hasilnya dagingnya empuk dan tidak amis, apalagi yang paling utama tidak mengandung kolestrol," ungkap

Keunggulan tersebut membuat pelanggannya senang, dan menjadikan rekomendasi para calon pelanggannya yang lain. "Tidak kurang dalam sehari 2-5 domba yang disembelih atau rata-rata 100 domba tiap bulan," ungkapnya lagi.

Lantas apa yang membuat Andi, melihat peluang usaha aqiqah ini, sementara dirinya merupakan mahasiswa jurusan mesin?

"Keluarga saya punya peternakan domba, pelanggan yang beli domba kami rata-rata digunakan untuk acara aqiqah, dari situ timbul pemikiran kenapa tidak saya buka usaha aqiqah juga, ternak sendiri, jual sendiri sampai buat sendiri (masakan aqiqah)," ucapnya.

Perhitungan bisnis Andi sederhana, dalam sebulan tidak kurang ada 1.000 acara aqiqah hanya di Jakarta saja."Kalau saya ambil pasar 2% saja, sudah besar sekali," ucap pria kelahiran 5 Januari 1989 ini.

"Bahkan saat ini, peternakannya tidak mampu memenuhi permintaan pesanan. Untuk memenuhi permintaan, saya membina sekitar 10 kelompok peternak domba yang tersebar di Cirebon, Depok, dan di daerah Jawa barat lainnya," kata Andi.

Andi pun tidak menutup peluang pihak lain untuk menjalin kerjasama. Ia mengaku kini omzet bisnisnya bisa mencapai Rp 400 juta per bulan "Simpel saja kerjasamanya, kita bagi hasil 50:50 dari keuntungan bersih," pungkasnya.

Anda berminat?

Raja Aqiqah Farm Maju Bersama
www.aqiqahjakarta.org
Andi Nata
Alamat: Depok Maharaja, New Sadewa Blok P12A No.15A

Sumber
read more...

Pebisnis Pupuk Online Ini Memulai Usaha dari Tolong Teman yang Tertipu

Memulai bisnis bagi seseorang memang berbeda-beda, ada yang terencana tetapi ada juga yang secara kebetulan. Misalnya yang dialami oleh Elsa Rosyidah, kini ia sukses menjadi pengusaha pupuk, hanya karena berawal dari keinginan untuk menolong teman yang sering ditipu oleh tenaga marketing.

Wanita kelahiran Blora, Jawa Tengah 1985 ini, kemudian mencoba membuat pemasaran pupuk secara online dari produk temannya. Padahal sebagian besar para pengguna pupuk adalah petani yang umumnya tidak terbiasa dengan transaksi online. Lalu bagaimana kah?

Usaha yang dimulai pada September 2009 ini, tidak disangka-sangka, dalam beberapa hari setelah ia memulai memasarkan melalui website tidak berbayar (blogspot), Elsa langsung memperoleh pesanan dalam jumlah yang cukup luar biasa.

Elsa menceritakan alasannya memilih penjualan dan pemasaran pupuk secara online. Berawal dari keinginan menolong, dia pun berpikir untuk memasarkan produk temannya itu. Padahal pada waktu itu, Elsa sedang menempuh studi S1 di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Kemudian ia berpikir bagaimana dapat menjual pupuk supaya dia bisa kuliah dan juga dapat membantu temannya.

"Itu sangat sulit bagi saya karena ketika memasarkan pupuk secara offline (nyata), itu memerlukan biaya untuk keliling kemudian saya tidak tahu medannya seperti apa, belum banyak kenalan di toko pupuk juga, dan itu menghabiskan waktu dan tenaga juga. Tetapi saya tetap ingin bantu dan akhirnya kita buat secara online," katanya kepada detikFinance beberapa waktu lalu di kediaman dubes AS, beberapa waktu lalu.

Beberapa hari setelelah mulai dipasarkan, kemudian ada seorang yang menelpon Elsa untuk memesan pupuk dari toko online-nya. Elsa pada saat itupun sedikit kaget karena dia samasekali tidak menyangka. Alasannya dalam waktu yang singkat, yakni 10 hari setelah toko online dari situs non berbayar itu (blogspot) di buka, langsung memperoleh respon dari pelanggan dan Elsa pun harus melihat katalog harga terlebih dulu karena dia tidak begitu hafal dengan harga pupuk yang ditawarkan.

"Waktu saya ditelpon orang, saya benar-benar bingung karena masih belum ada persiapan dan saya masih lihat daftar harganya berapa," ceritanya.

Wanita finalis wirausaha mandiri nasional tahun 2009 dan juga salah satu dari sembilan wanita muda Indonesia peraih program 10.000 wanita wirausaha dunia dari Goldman Sachs di Amerika Serikat tahun 2012 ini, menyadari bahwa hanya dengan mengunakan situs non berbayar yang sederhana saja bisa berjalan. Kemudian ia berpikir untuk meningkatkan kualitas toko onlinenya, Elsa kemudian menggunakan situs berbayar.

"Ini kemudian berlangsung hingga kini dan sekarang menggunakan website yang berbayar," tuturnya.

Menurut Elsa, memasarkan dan menjual pupuk secara online, bukannya tanpa kendala karena pupuk merupakan kebutuhan dasar petani yang umumnya jarang dijual secara online dan sebagian besar pengguna pupuk dan distribusi pupuk dipegang adalah orang yang usianya cukup tua dan tidak terbasa dengan transaksi melalui toko online. Disamping itu, tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap transasksi online masih relatif rendah.

"Kita harus membiasakan mereka untuk online dan membuat mereka percaya kepada kita," pungkasnya.

Elsa sendiri menjual pupuk semi organik, sedangkan pelangganya tidak membatasi segmen pasar dari toko onlinenya. Menurutnya siapapun orang yang terbiasa dan bisa transaksi online merupakan pasarnya.

Pelangganya sendiri merupakan orang yang sudah berpengalaman di bidang pupuk, seperti para petani, kelompok tani, toko prasarana pertanian dan distributor pupuk.

"Semua orang yang bisa online itu adalah pasar kami," ujarnya.

Elas yang kini sedang menempuh pendidikan Pasca Sarjana di Unpad Bandung ini menambahkan, usaha yang awalnya hanya dikelola oleh ia sendiri, sekarang telah memiliki 8 orang pegawai karena seiring berjalannya waktu dan meningkatnya order atau pesanan pupuk.

Sayangnya Elsa enggan berkomentar soal berapa omset yang ia peroleh, tetapi ia mengungkapkan dari awal berdiri hingga sekarang, peningkatan penjulan toko onlinenya mencapai 400%. Saat ini pasar pupuknya telah tersebar di seluruh pulau di Indonesia dari jawa, Sumatera hingga Sulawesi.

"Itu luar biasa dan sekitar 400% serta pasar kami tersebar di seluruh Indonesia," ungkapnya.

Kesuksesan wanita muda ini bukannya tanpa kendala, Elsa pernah mengalami pengalaman pahit. Saking senangnya waktu pesanan di awal-awal. Pada pesanan selanjutnya Elsa memperoleh pesanan sekiatar 3 kontainer pupuk.

Tepatnya pada tahun 2009, ketika barang telah sampai di tangan pelanggan. Ternyata pupuk yang dijual oleh Elsa tidak dibayar dan orang yang membeli tidak tahu kemana. Dia waktu itu mengalami kerugian hingga Rp 160 juta. Pengalaman tersebut kemudian memberikan pelajaran yang berharga bagi Elsa untuk membuat sistem pembayaran agar peristiwa itu tidak terulang kembali, yakni barang akan dikirim jika sudah lunas atau 100% terbayar.

"Barang akan kita kirim ketika pembayaran 100% telah dibayarkan. 50% ketika pemesanan dan 50% ketika barang akan dikirim.” tegasnya.

Elsa juga berkeinginan membuka toko pupuknya secara offline dan menambah kerjasama dengan produsen pupuk untuk menambah jenis produk yang dijual dan memperluas pasarnya. Serta meningkatkan kualitas sistem toko onlinenya.

Jika anda berminat memesan pupuk online atau mengetahui jenis pupuk yang dijual. Anda dapat mengunjungi situs: http://tokopupuk.net


read more...

Pemilik Burger Hitam Ini Jadi Pebisnis Berawal dari Kecelakaan

 Memilih untuk berbisnis atau berwirausaha memang memiliki alasan beragam, dari alasan ingin memperoleh penghasilan lebih hingga kepepet tidak punya pilihan selain berwirausaha. Inilah yang dialami oleh Rinanda Halfi atau Halfi.

Pria kelahiran 23 tahun yang menetap di Bandung ini, mempunyai pengalaman unik ketika memulai usahanya. Berawal dari sebuah kecelakaan mobil yang membuat dia harus mengganti uang dari himpunan mahasiswa karena di dalam mobilnya ada uang himpunan yang diambil oleh warga.

Bingung untuk menggantinya, tidak lantas membuat dirinya berpangku tangan, ia kemudian berpikir untuk berwirausaha. Pertamanya Halfi berbisnis kaos dan kemudian ia
melanjutkan bisnisnya ke usaha makanan yaitu burger dengan bendera Black Burger atau Burger Hitam. Kini ia menghasilkan omzet Rp 60 juta per bulannya.

Menurut Halfi, ketika ditemui detikFinance di sela-sela pameran Produk UKM di JCC pekan laliu. Ia menuturkan alasannya memlih burger sebagai bisnisnya atau tidak memilih makanan lain.

Halfi beralasan, burger merupakan makanan yang sudah familiar di kalangan masyarakat perkotaan tetapi kebanyakan usaha burger ini, masih dikuasai oleh pemain asing seperti Burger King dan McDonald's. Sehingga untuk bersaing, produk miliknya harus berbeda dengan para pesaingnnya.

"Kalau sama, kita nggak akan cukup untuk melawan mereka (Burger King dan McDonald's), jadi kita harus buat diferensiasi (perbedaan) produk. Akhirnya saya buat inovasi dengan Black Burger," imbuh pria yang baru lulus dari jurusan Public Relation Unpad ini.

Burger yang berbeda dari burger yang ada pasaran ini, memang unik. Warna rotinya pun berwarna hitam, ia beri nama Black Burger. Warna hitamnya sendiri berasal dari buah kluwek, buah yang cuma ada di Indonesia, buah ini sering dipakai untuk membuat rawon atau sup condro. Menurut halfi, rasa dagingnya juga membuat burger milikinya berbeda dengan burger lainnya yakni memiliki citra rasa Indonesia.

"Dagingnya kita juga punya ciri khas yaitu dagingnya pakai daun jeruk dan cabe rawit, benar-benar cita rasa indonesia," tegasnya.

Bisnis burger yang dijalaninya sejak tahun 2010, tepatnya saat dia berada di semester 7 di Fakultas Komunikasi Unpad. Saat ini telah memiliki 2 outlet dan 28 aneka ragam burger. Pilihan rasa burgernya sendiri ada 3 macam yaitu: original, manis, dan hot. Untuk harganya sendiri, mulai dari harga Rp 12.000 – Rp 30.000 per potong.

Selain itu Halfi juga mengembangkan burger untuk para vegetarian dari bahan tempe dan burger nasi juga. Dari 2 outlet yang semuanya berada di Bandung itu, Halfi
telah mempekerjakan 5 orang karyawan.

"Kalau sekarang masih 5, dulu pernah sampai 8 tetapi kita tutup yang di Bogor karena penjualannya kurang bagus tapi kita ingin buka lagi. Sekarang saya punya 2 outlet," tutur finalis wirausaha mandiri nasional dan Start Up Icon yaitu pengusaha muda yang jadi icon-icon di Bandung tahun 2011.

Dari 2 outlet Black Burger milik Halfi, omzet setiap outletnya per bulannya mencapai Rp 20-60 juta per bulan untuk semua outletnya. Ini merupakan omzet yang besar untuk seorang pemuda berusia 23 tahun.

Keberhasilan yang ia capai bukannya tanpa kendala. Halfi pernah ditipu oleh mitranya sendiri, ia bekerjasama dengan sebuah toko (vendor) pembuat roti untuk burger milikinya. Tanpa dia sadari ternyata mitranya tersebut menjual burger sejenis dari resep miliknya.

"Ini bukan masalah materi tapi ide kita dicuri, belajar dari kondisi itu maka setiap saya membuat komitmen dengan seseorang saya selalu buat MoU atau perjanjian. Dengan karyawan saya juga seperti itu," tambahnya.


Pada tahun 2012 ini, dia berencana untuk membuka 6 outlet lagi di Bandung dan 1 outlet di daerah Senopati (Jakarta). Selain itu, Halfi juga memiliki mimpi untuk menjadi kompetitor kuat McDonald's dan Burger King di Indonesia. Dia ingin menunjukkan bahwa Indonesia juga memiliki Burger yang berkualitas dengan citra rasa Indonesia.

"Mimpi saya, saya ingin menjadi kompetitor kuat McD dan Burger King di indonesia," tambahnya.

Jika anda berminat memesan atau ingin mengetahui Black Burger lebih jauh. Anda dapat mengirim email ke: r_halfi_m@yahoo.co.id atau dapat memesan menggunakan Facebook di black burger dan twitter @blackburger_

read more...